Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kebangkitan Perdagangan di Makassar Hingga Awal Abad ke-20 (5)

Kebangkitan Perdagangan di Makassar Hingga Awal Abad ke-20, Makassar, macassar, makasser, somba opu, tallo, Gowa-Tallo, benteng rotterdam, fort rotterdam, pelabuhan makassar, bank makassar, Peta Kerajaan Makassar pada Abad ke-17 Nationaal Archief (www.gahetna.nl), kerajaan gowa tallo, karaeng bainea, karaeng baineya, karaeng bayo, Karebosi Dalam Peta Kota Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Tallo dan Sombaopu, Kerajaan Tallo dan Kerajaan Gowa, Sejarah Makassar, Sejarah Kota Makassar, Jejak Makassar dalam Catatan Portugis, Sejarah kerajaan Makassar, sejarah kerajaan Tallo, asal mula kerajaan tallo, perang makassar, idwar anwar,  arung makassar, karaeng makassar, karaeng loe, karaeng tallo, karaeng gowa, bandar makassar,pelabuhan makassar,
Kapal Plancius dari Koninklijk Paketvaart Maatschappaij (KPM). KPM Mulai beroperasi pada 1891 sebagai Tulang Punggung Transportasi Laut Pemerintah Kolonial (Sumber: Koleksi Tropenmuseum)

MAKASSAR.ARUNGSEJARAH.COM - Kebangkitan Perdagangan di Makassar Hingga Awal Abad ke-20 (5).


MEMASUKI abad ke-20, kepopuleran kopi semakin meningkat. Kopi menjadi komoditas ekspor menguntungkan untuk dijual terutama ke negara-negara di Eropa sebagai konsumen utama industri kopi dunia. 

Konsumsi kopi meningkat terutama setelah kopi sudah semakin populer dan penggunaannya meluas bukan hanya dapat dinikmati para bangsawan di Eropa namun dapat dinikmati pula oleh rakyat biasa. Hingga kemudian mendatangkan permintaan yang semakin besar terhadap komoditas tersebut. 

Ekspor dari Hindia Belanda, termasuk Makassar, kopi dikirimkan ke negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat. Walaupun bukan sebagai penghasil kopi terbesar di Hindia Belanda, namun Makassar juga merupakan salah satu wilayah yang aktif mengekspor kopi ke berbagai negara lain. Negara-negara tersebut di antaranya adalah Belanda, Jerman, Portugal, Perancis, Denmark , Swedia, Austria, dan Amerika Serikat. 

Pada laporan Kamer van koophandel en Nijverheid te Makassar (Kamar Dagang Makassar) tahun 1903-1913 menunjukkan hasil ekspor kopi dari Makassar. Walaupun dari data ini terlihat penurunan ekspor kopi secara signifikan dari tahun ke tahun, namun tetap saja memperlihatkan betapa dinamis dan ramainya kegiatan ekspor-impor berbagai komoditas termasuk kopi di Makassar.

Dari dinamika perekonomian yang terjadi sejak pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20, memperlihatkan bagaimana Makassar menjelma menjadi pusat perdagangan berbagai komoditas ekspor yang dikirimkan ke berbagai negara di dunia. Makassar telah menjadi simpul mata rantai perdagangan internasional modern. 

Dinamika perdagangan yang semakin masif membuat lembaga perbankan tertarik untuk membuka kantornya di wilayah tersebut. Baru pada pertengahan abad ke-19, muncul lembaga perbankan pertama di wilayah Makassar dengan nama De Javasche Bank pada 1867. 

Kemudian pada awal abad ke-20, seiring dengan perekonomian yang semakin maju, bagai jamur di musim hujan, lembaga perbankan berlomba-lomba untuk membuka kantornya di Kota Makassar. (Sumber: Bank Indonesia Institute, Pusat Ekonomi Maritim Makassar Dan Peranan Bank Indonesia Di Sulawesi Selatan, 2019).

Sebelumnya.... Kebangkitan Perdagangan di Makassar Hingga Awal Abad ke-20 (4) - Arung Makassar (arungsejarah.com)

****

Akihary, H. (1996), Ir. F. J. L. Ghijsels, Architect in Indonesia 1910–1929. Utrecht: Seram Press.

Altes, W. L. Korthals (2004), Tussen cultures en kredieten: Een institutionele van de NederlandschIndiĆ« Handelsbank en Nationale Handelsbank 1863–1964. Amsterdam: NIBESVV.

Andaya, Leonard Y. (2006), Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad Ke-17 (terj.). Makassar: Ininnawa.

Anderson, J. L. (1997), “Piracy in the Eastern Seas 1870–1950,” dalam D. J. Starkey, E. S. van Eyck van Heslinga, J. A. de Moor (ed.), Pirate and Privateers: New Perspectives on the War on Trade in the Eighteenth Century. Exeter, Devon: University of Exeter Press.

Arndt, H. W. (1984), The Indonesian Economy: Collected Papers. Singapura: Stamford Press.

Asba, A. Rasyid (2007), Kopra Makassar: Perebutan Pusat dan Daerah, Kajian Sejarah Ekonomi 

Politik Regional di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. (2007), Katalog Sejarah Lisan Jepang di Sulawesi Selatan. Tokyo: C-DTAS.

Bank Indonesia (2005), Sejarah Bank Indonesia Periode I 1945–1959: Bank Indonesia pada Masa Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Unit Khusus Museum Bank Indonesia. (2015), Lintasan Masa Numismatika Nusantara: Koleksi Museum Bank Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia.

Basri, Faisal dan Haris Munandar (2009), Lanskap Ekonomi Indonesia: Kajian dan Renungan terhadap Masalah-masalah Struktural, Transformasi Baru, dan Prospek Perekonomian Indonesia. Jakarta: Prenada Media.

Boland, B. J. (1982), The Struggle of Islam in Modern Indonesia. Leiden: KITLV.

Booth, Anne (1998), The Indonesian Economy in the Nineteenth Centuries: A History of Missed Opportunities. London: Palgrave Macmillan Press.

Braudel, F. (1966), The Mediterranean and the Mediterranean Worls in the Age of Philip II, Volume 1. New York: Harper Colophon. Brown, Iem (2001), Territories of Indonesia. London: Routledge.

Broze, Frank (ed.) (1989), Brides of the Sea: Port Cities of Asia from the 16th–20th Century. Kensington: New South Wales University Press.

Chauduri, K. N. (1989), Trade and Civilization in Indian Ocean: An Economic History from the Rise of Islam to 1750. Cambridge: Cambridge University Press.

Claver, Alexander (2014), Dutch Commerce and Chinese Merchant in Java: Colonial Relationship in Trade and Finance 1800–1942. Leiden: Brill.

Cortesao, Armando (1944), The Suma Oriental of Tome Pires: An Account the East from the Red Sea to Japan, Written (at Malacca) 1512 to 1515. London: Hakluyt Society.

Creutzberg, Pieter dan J. T. N. van Laanen (1987), Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Curtain, Philip D. (1988), Cross-cultural Trade in World History. Cambridge: Cambridge University Press.

Darsono, dkk. (2016), Perjuangan Mendirikan Bank Sentral Republik Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.(2017), Berjuang dengan Uang Mempertahankan dan Memajukan Republik Indonesia: Semangat Juang Otoritas dan Masyarakat Sumatera Utara. Jakarta: Bank Indonesia.

Dick, Howard (2002), The Emergence of a National Economy: An EconomicHistory of Indonesia 1800-2000. Hawaii: University of Hawaii Press.

Djojohadikoesoemo, Margono (1962), Kenang-kenangan dari Tiga Zaman: Satu Kisah Kekeluargaan Tertulis. Jakarta: Indira.

Djojohadikusumo, Sumitro (1953), Persoalan Ekonomi. Jakarta. (1989), Kredit Rakyat di Masa Depresi (terj.). Jakarta: LP3ES.

Djumhana, Muhammad (1996), Hukum Perbankan di Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Feith, Herbert (2009), The Cabinet Wilopo 1952–1953: A Turning Point in Post Revolutionary Indonesia. Singapura: Equinox.

Foray, Jennifer L. (2012), Visions of Empire in the Nazi-Occupied Netherlands. Cambridge: Cambridge University Press.

Hall, Kenneth R. (1985), Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia. Honolulu: University of Hawai’i Press.

Hartono, Noek (1976), Bank Indonesia: Sejarah Lahir dan Pertumbuhannya. Jakarta: Bank Indonesia.

Heering, Christiaan G. (1995), The Green Gold of Selayar: a Socio-economic History of an Indonesian Coconut Island c. 1600-1950s: Perspectives from a Periphery. Amsterdam: Vrije Universiteit

..............